Assalamualaikum,

NFT atau Non-fungible tokens adalah aset digital yang mewakili objek dunia nyata seperti seni, musik, item dalam game, dan video. Baru baru ini di Indonesia sendiri gempar dengan seorang pemuda yang mendadak menjadi Miliarder dengan menjual foto selfienya di salah satu marketplace NFT ternama OpenSea.

Dari fenomena tersebut banyak sekali orang-orang yang ikut menjual karya atau aset aset digital mreka, dari mulai pejabat, artis bahkan masyarakat umum. kita degar sebelumnya Ridwan Kamil ikut menjual karya pelukis Jjalanan Bandung dan terjual Rp. 4,2 jt yang biasanya terjual Rp. 500rb. Selain itu juga Analis saham, Belvin Tannadi juga ikut menjual potret dirinya yang terjual Rp. 37.928.404,- dalam waktu 24 Jam. Bumilangit juga ikut menjual karya mereka yang ternama yaitu Gundala dan Sri Asih yang berjumlah 365 Unit dengan harga 0,02 ETH atau sekitar Rp. 1,1 Jt. Disamping itu juga banyak sekali masyarakat yang menjual karya unik mereka dan ada juga yang hanya sekedar latah berangan angan seperti nasib Ghazali.

Mirisnya, di Indonesia diwarnai  dengan maraknya penjualan foto KTP elektronik. Pakar Metaverse dari Indonesia Digital Milenial Cooperatives (IDM Co-op) MC Basyar memperingatkan bahwa yang dilakukan warga Indonesia hampir kelewat batas. Peringatan itu masuk akal, karena segala sesuatu yang terjual dalam bentuk NFT akan tersambung ke dalam teknologi BlockChain dan akan ada smart contract yang menjadi bukti bahwa NFT itu sudah dibeli dan menjadi hak kekayaan intelektual secara universal oleh si pembelinya. Dan itu akan menyebabkan si pemilik KTP yang dijual akan kehilangan kekuatan jika KTP itu disalahgunakan. Hal ini termasuk dengan aset aset yang bersifat personal yang lain juga, sang pemilik aset digital yang sudah dibeli bisa dengan bebas menggunakan aset tersebut.

Dengan adanya fenomeni ini di tengah masyarakat, saya berharap pemerintah segera membuat regulasi berkaitan dengan jual beli aset digital ini. Direktur Jendral Kependudukan dan Catatan Sipil Kementrian Dalam Negeri Zudan Arif Fakhrulloh menyebutkan “Foto dokumen kependudukan yang berisi data-data pribadi dan sudah tersebar sebagai NFT itu, akan¬† sangat memicu terjadinya fraud/penipuan/kejahatan, dan membuka bagi ‘pemulung data’ untuk diperjualbelikan di pasar underground” dikutip dari regional.kontan.co.id Minggu, 16 Januari 2022. Bahkan Zudan menyampaikan bahwa itu merupakan tindakan pelanggaran hukum. “Terdapat ancaman pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak satu milyar rupiah, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 96 dan Pasal 96A Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013” tegas dia.